Kamis, 12 Januari 2017

Masalah Sosial Budaya

Masalah Sosial Budaya Tentang Pengangguran


  1. Pengertian Masalah Sosial Budaya
Menurut Soerjono Soekanto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.

Masalah sosial dan budaya adalah terganggunya atau terhambatnya nilai kemanusiaan dan atau aktivitas manusia dalam mengelola alam, baik itu material ataupun non-material. Masalah-masalah sosial dan budaya selalu ada kaitannya yang dekat dengan nilai nilai moral dan pranata sosial, nilai kehidupan serta selalu ada kaitannya dengan hubungan-hubungan manusia  dan konteks normatif dimana hubungan manusia itu terwujud.

Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :

1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dan lain - lain.

2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, 
dan lain - lain.

3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, 
dan lain - lain.

4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, 
dan lain - lain.


  1. Masalah Sosial Budaya Pengangguran
Pengangguran merupakan istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran biasanya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian, karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang,sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.

Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pengangguran dari faktor pribadi :

1.      Faktor kemalasan.

2.      Faktor cacat atau umur.

3.      Faktor rendahnya pendidikan dan keterampilan.

Faktor ini merupakan penyebab utama meningkatnya pengangguran di Indonesia, di antaranya:
1.      Ketimpangan antara penawaran tenaga kerja dan kebutuhan.
2.   Kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat.
3.   Pengembangan sektor ekonomi.
4.   Banyaknya tenaga kerja wanita.
Beberapa hal yang menyebabkan pengangguran antara lain:
1.      Penduduk yang relatif banyak.
2.      Pendidikan dan keterampilan yang rendah.
3.      Angkatan kerja tidak dapat memenuhi persyaratan yang diminta dunia kerja.
4.      Teknologi yang semakin modern.
5.      Pengusaha yang selalu mengejar keuntungan dengan cara melakukan penghematan-penghematan.
6.      Penerapan rasionalisasi.
7.      Adanya lapangan kerja yang dengan dipengaruhi musim.
8.      Ketidakstabilan perekonomian, politik dan keamanan suatu negara
Beberapa faktor yang menyebabkan seseorang tidak mendapat pekerjaan :
1.      Kurangnya informasi.
2.      Tidak adanya sistem penerimaan publik.
3.      Sulit menerapkan kepintarannya dalam dunia pekerjaan

  1. Cara Menagani Pengangguran
1.      Peningkatan Mobilitas Tenaga kerja dan Moral

Peningkatan mobilitas tenaga kerja dilakukan dengan memindahkan pekerja ke kesempatan kerja yang lowong dan melatih ulang keterampilannya sehingga dapat memenuhi tuntutan kualifikasi di tempat baru. Peningkatan mobilitas modal dilakukan dengan memindahkan industry (padat karya) ke wilayah yang mengalami masalah pengangguran parah. Cara ini baik digunakan untuk mengatasi msalah pengangguran structural.

2.      Pengelolaan Permintaan Masyarakat

Pemerintah dapat mengurangi pengangguran siklikal melalui manajemen yang mengarahkan permintaan-permintaan masyarakat ke barang atau jasa yang tersedia dalam jumlah yang melimpah.

3.      Penyediaan Informasi tentang Kebutuhan Tenaga Kerja

Untuk mengatasi pengangguran musiman, perlu adanya pemberian informasi yang cepat mengenai tempat-tempat mana yang sedang memerlukan tenaga kerja.
Masalah pengangguran dapat muncul karena orang tidak tahu perusahaan apa saja yang membuka lowongan kerja, atau perusahaan seperti apa yang cocok dengan keterampilan yang dimiliki. Masalah tersebut adalah persoalan informasi.
Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu diadakan system informasi yang memudahkan orang mencari pekerjaan yang cocok. System seperti itu antara lain dapat berupa pengumuman lowongan kerja di kampus dan media massa. Bias juga berupa pengenalan profil perusahaan di sekolah-sekolah kejuruan, kampus, dan balai latihan kerja.


4.      Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi baik digunakan untuk mengatasi pengangguran friksional. Dalam situasi normal, pengangguran friksional tidak mengganggu karena sifatnya hanya sementara. Tingginya tingkat perpindahan kerja justru menggerakan perusahaan untuk meningkatkan diri (karir dan gaji) tanpa harus berpindah ke perusahaan lain.
Menurut Keynes, pengangguran yang disengaja terjadi bila orang lebih suka menganggur daripada harus bekerja dengan upah rendah. Di sejumlah Negara, pemerintah menyediakan tunjangan/santunan bagi para penganggur. Bila upah kerja rendah maka orang lebih suka menganggur dengan mendapatkan santunan penganggur. Untuk mengatasi pengangguran jenis ini diperlukan adanya dorongan-dorongan (penyuluhan) untuk giat bekerja.
Pengangguran tidak disengaja, sebaliknya, terjadi bila pekerja berkeinginan bekerja pada upah yang berlaku tetapi tidak mendapatkan lowongan pekerjaan. Dalam jangka panjang masalah tersebut dapat diatasi dengan pertumbuhan ekonomi.


5.      Program Pendidikan dan Pelatihan Kerja

Pengangguran terutama disebabkan oleh masalah tenaga kerja yang tidak terampil dan ahli. Perusahaan lebih menyukai calon pegawai yang sudah memiliki keterampilan atau keahlian tertentu. Masalah tersebut amat relevan di Negara kita, mengingat sejumlah besar penganggur adalah orang yang belum memiliki keterampilan atau keahlian tertentu.

6.      Wiraswasta

Selama orang masih tergantung pada upaya mencari kerja di perusahaan tertentu, pengangguran akan tetap menjadi masalah pelik. Masalah menjadi agak terpecahkan apabila muncul keinginan untuk menciptakan lapangan usaha sendiri atau berwiraswasta yang berhasil.

Saran

Pengangguran di Indonesia bisa dibilang semakin tahun kian meningkat. Hal ini merupakan salah satu masalah yang sampai saat ini belum menemui titik terangnya. Maka dari itu hal ini harus segera dicari solusi yang terbaik agar masalah pengangguran ini tidak lagi merugikan baik di pihak masyarakat maupun pemerintah.

Sebagai subjek yang mencari pekerjaan, masyarakat harus berperan aktif dalam meningkatkan kualitas diri, mencari informasi terbaru, tidak boleh kalah saing dengan teknologi yang diciptakan oleh manusia, dan sebagainya. Dengan peningkatan hal – hal tersebut di atas diharapkan dapat mendapatkan pekerjaan yang selayaknya dan mengurangi angka pengangguran.

Peran pemerintah dalam menyelesaikan masalah pengangguran merupakan salah satu hal yang tidak bisa dihindari. Pemerintah dapat melakukan beberapa upaya untuk mengurangi angka pengangguran yang berarti juga mensejahterakan masyarakatnya. Tindakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mencari solusi untuk mengurangi angka pengangguran, membuat lapangan kerja yang baru, memberikan pelatihan kepada pengangguran yang ada agar mereka dapat mencari kerja baik di dalam negeri maupun di luar negeri, meningkatkan kualitas pendidikan, dan sebagainya.

Dengan adanya keselarasan antara kedua belah pihak di atas diharapkan dapat mengurangi pengangguran yang berarti dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.


Daftar Pustaka






Jumat, 06 Januari 2017

Manusia dan Tanggung Jawab

Manusia dan Tanggung Jawab

  1. Pengertian Manusia
Manusia adalah makhluk ciptaan ALLAH swt yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya, karena manusia mempunyai akal dan pikiran untuk berfikir secara logis dan dinamis, dan bisa membatasi diri dengan perbuatan yang tidak dilakukan, dan kita pun bisa memilih perbuatan mana yang baik (positif) atau buruk (negatif) untuk diri kita sendiri. Selain itu dapat diartikan manusia secara umum adalah manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial. Karena bukan hanya diri sendiri saja tetapi manusia perlu bantuan dari orang lain. Maka sebab itu manusia adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial.

Pengertian manusia dapat dilihat dari berbagai segi. Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang mampu menguasai makhluk lain. Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu. Secara biologi, manusia diartikan sebagai sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.

  1. Pengertian Tanggung Jawab
Tanggung jawab menurut kamus umum bahasa indonesia adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab menurut kamus umum bahasa indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya.

Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau  perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai wujudan kesadaran akan kewajibannya. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bertang­gung jawab. Disebut demikian karena manusia, selain merupa­kan makhluk individual dan makhluk sosial, juga merupakan makhluk Tuhan. Manusia memiliki tuntutan yang besar untuk bertanggung jawab mengingat ia mementaskan sejumlah peranan dalam konteks sosial, individual ataupun teologis.

Ketika masyarakat di beri beban untuk melaksanakan tanggung jawab seringkali beberapa dari mereka berusaha untuk menghindar atau tidak menginginkannya sama sekali. Ada pula yang dengan sigap dan percaya diri untuk menjalankan beban yang akan diberikan tersebut. Sebagai contoh adalah dalam kasus pemilihan ketua kelas. Kebanyakan para murid akan menunjuk teman mereka untuk dijadikan kandidat sebagai ketua kelas daripada menunjuk dirinya sendiri sebagai salah satu kandidat.

Kebanyakan dari kita menghindar untuk memikul beban tanggung jawab tersebut dengan berbagai alasan. Masih merasa sulit, merasa keberatan, bahkan ada orang yang merasa tidak sanggup jika diberikan kepadanya suatu tanggung jawab. Kebanyakan orang mengelak bertanggung jawab, karena jauh lebih mudah untuk “menghindari” tanggung jawab, daripada “menerima” tanggung jawab.

  1. Manusia dan Tanggung Jawab
Manusia dan tanggung jawab memiliki hubungan yang saling terkait. Setiap manusia pasti memiliki tanggung jawabnya masing – masing dalam menjalankan roda kehidupannya. Manusia tidak dapat terpisah dari beban tanggung jawab tersebut yang identik dengan kewajiban. Bila seseorang melakukan suatu kewajiban maka dia akan menerima haknya atas kewajiban yang telah dia lakukan.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang telah melaksanakan kewajibannya dalam mengerjakan tugas akan menerima hak dari dosen yaitu suatu pembahasan atas tugas tersebut, pembetulan jika terdapat sesuatu yang kurang benar dan penilaian atas tugas tersebut. Dari contoh tersebut dapat dipahami bahwa tanggung jawab yang dibebankan kepada mahasiswa tersebut telah ia selesaikan dan menerima timbal balik yang sepadan atas apa yang telah ia kerjakan.

Tanggung jawab sangat berperan penting dalam proses kehidupan manusia. Oleh karena itu, kita sebagai manusia harus menerima tanggung jawab tersebut dengan senang hati dan melaksanakannya dengan sebaik mungkin. Karena tanggung jawab tersebut akan sangat berdampak pada kehidupan yang akan datang.

  1. Jenis – Jenis Tanggung Jawab
1.      Tanggung Jawab terhadap Tuhan

Manusia ada tidak dengan sendirimya, tetapi merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan manusia dapat mengembangkan diri sendiri dengan sarana - sarana pada dirinya yaitu pikiran, perasaan, seluruh anggota tubuhnya, dan alam sekitarnya.

Dalam mengembangkan dirinya manusia bertingkah laku dan berbuat. Sudah tentu dalam perbuatannya manusia membuat banyak kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. Sebagai hamba Tuhan, manusia harus bertanggung jawab atas segala perbuatan yang salah itu atau dengan istilah agama atas segala dosanya.
Dalam kehidupan sehari - hari manusia bersembahyang sesuai dengan perintah Tuhan. Apabila tidak bersembahyang, maka manusia itu harus mempertanggung jawabkan kelalaiannya itu diakhirat kelak.

Manusia hidup dalam perjuangan, begitu firman Tuhan. Tetapi bila manusia tidak bekerja keras untuk kelangsungan hidupnya, maka segala akibatnya harus dipikul sendiri, penderitaan akibat kelalaian adalah tanggung jawabnya. Meskipun manusia menutupi perbuatannya yang salah dengan segala jalan sesuai dengan kondisi dan kemampuannya, misalnya dengan hartanya, kekuasaannya, atau kekuatannya (ancaman), namun manusia tak dapat lepas dari tanggung jawabnya kepada Tuhan.

2.      Tanggung Jawab terhadap Diri Sendiri

Tanggung jawab terhadap diri sendiri artinya adalah tanggung jawab yang diberikan oleh diri kita sendiri dan ditujukan untuk diri kita sendiri. Tanggung jawab tersebut dapat berupa mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi, mengendalikan perasaan, dalam memberikan pendapat pribadi. Apa yang telah kita lakukan harus menerima resikonya sendiri.

3.      Tanggung Jawab terhadap Keluarga

Keluarga merupakan masyarakat kecil. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga, tetapi tanggung jawab juga merupakan kesejaterahaan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan. Sebagai anggota keluarga kita harus saling menjaga nama baik keluarga dengan sikap dan perbuatan yang kita lakukan di dalam kehidupan bermasyarakat.

            Tanggung jawab dalam keluarga dapat dibagi – bagi sesuai peranan anggota keluarga. Misalnya, tanggung jawab Ayah adalah untuk mencari nafkah, memperbaiki peralatan rumah yang rusak, melindungi anggota keluarga, dan lain-lain. Ibu memiliki tanggung jawab untuk memasak, mengurus ayah dan anak – anak ketika hendak pergi kerja dan sekolah, mencuci, dan lain – lain. Tanggung jawab anak – anak adalah bersekolah dengan baik, membantu pekerjaan rumah seperti menyapu atau mengepel.

4.      Tanggung Jawab terhadap Masyarakat

Manusia saling mebutuhkan bantuan satu sama lain sehingga manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Tanggung jawab dalam masyarakat dapat berupa berinteraksi antar masyarakat yang satu dan yang lain, saling membantu bila ada yang membutuhkan, menjaga perasaan satu sama lain.

5.      Tanggung Jawab terhadap Bangsa atau Negara

Suatu kenyataan lagi bahwa tiap manusia, tiap individu adalah suatu warga negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, dan bertingkah laku manusia terikat oleh norma-norma yang di buat oleh negara. Manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah maka ia harus bertanggung jawab kepada Negara atas apa yang telah ia perbuat. Kita harus menjaga nama baik bangsa dan negara kita sendiri dengan prestasi-prestasi anak bangsa.

  1. Pengabdian dan Pengorbanan
Wujud tanggung jawab juga berupa pengabdian dan pengorbanan. Pengabdian dan pengorbanan adalah perbuatan baik untuk kepentingan manusia itu sendiri. Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta kasih sayang, norma, atau satu ikatan dari semua itu dilakukan dengan ikhlas.

Pengabdian itu pada hakekatnya adalah rasa tanggung jawab. Apabila orang bekerja keras sehari penuh untuk mencapai kebutuhan keluarga, hal itu adalah mengabdi kepada keluarga. Manusia tidak ada dengan sendirinya, melainkan mahluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan manusia wajib mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan merupakan perwujudan tanggung jawab kepada Tuhan.

Pengorbanan berasal dari kata korban atau kurban yang berarti persembahan, sehingga pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung keikhlasan yang tidak mengandung pamrih. Suatu pemberian yang didasarkan atas kesadaran moral yang tulus ikhlas semata-mata.

Perbedaan antara pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas. Karena adanya pengabdian tentu ada pengorbanan. Antara sesama kawan sulit dikatakan pengabdian karena kata pengabdian mengandung arti lebih rendah tingkatannya, tetapi untuk kata pengorbanan dapat juga diterapkan kepada sesama teman.

Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran dan perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan. Pengabdian lebih banyak menunjuk pada perbuatan sedangkan pengorbanan lebih banyak menunjuk pada pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga, biaya. Dalam pengabdian selalu dituntut pengorbanan, tetapi pengorbanan belum tentu menuntut pengabdian.

            Salah satu contoh seorang mahasiswa yang telah lulus memilih untuk mengabdi kepada masyarakat dengan suka rela mengajar di pedesaan tanpa imbalan sedikit pun. Pengabdian yang dilakukan oleh mahasiswa tersebut adalah pengabdian terhadap masyarakat. Pengorbanan yang dilakukan oleh mahasiswa tersebut adalah tanpa pamrih tidak digaji ketika mengajar di pedesaan.






DAFTAR PUSTAKA



https://yogiearieffadillah.wordpress.com/2013/06/04/makalah-manusia-dan-tanggung-jawab/

http://akiranadhira.blogspot.co.id/2015/05/manusia-dan-tanggung-jawab.html


Manusia dan Pandangan Hidup

Manusia dan Pandangan Hidup

  1. Pengertian Manusia
Manusia adalah makhluk ciptaan ALLAH swt yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya, karena manusia mempunyai akal dan pikiran untuk berfikir secara logis dan dinamis, dan bisa membatasi diri dengan perbuatan yang tidak dilakukan, dan kita pun bisa memilih perbuatan mana yang baik (positif) atau buruk (negatif) untuk diri kita sendiri. Selain itu dapat diartikan manusia secara umum adalah manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial. Karena bukan hanya diri sendiri saja tetapi manusia perlu bantuan dari orang lain. Maka sebab itu manusia adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial.

Pengertian manusia dapat dilihat dari berbagai segi. Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang mampu menguasai makhluk lain. Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu. Secara biologi, manusia diartikan sebagai sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.

  1. Pengertian Pandangan Hidup
Menurut Koentjaraningrat (1980) pandangan hidup adalah nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat yang dipilih secara selektif oleh para individu dan golongan didalam masyarakat. Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebajikan dan sikap hidup.

Menurut Manuel Kaisiepo (1982), pandangan hidup merupakan bagian hidup manusia. Tidak ada seorang pun yang hidup tanpa pandangan hidup meskipun tingkatannya berbeda-beda. Pandangan hidup mencerminkan citra dari seseorang karena pandangan hidup itu mencerminkan cita-cita atau aspirasinya. Dan menurut Lenski dalam buku Ilmu Budaya Dasar yang disusun oleh Eddy Subandrijo (2000: 90) Pandangan hidup merupakan bagian dari ideologi.

Secara umum Pandangan Hidup merupakan suatu dasar atau landasan untuk membimbing kehidupan jasmani dan rohani. Pandangan hidup ini sangat bermanfaat bagi kehidupan individu, masyarakat, atau negara. Semua perbuatan, tingkah laku dan aturan serta undang-undang harus merupakan pancaran dari pandangan hidup yang telah dirumuskan.

Pandangan hidup sering disebut filsafat hidup. Filsafat berarti cinta akan kebenaran, sedangkan kebenaran dapat dicapai oleh siapa saja. Hal inilah yang mengakibatkan pandangan hidup itu perlu dimiliki oleh semua orang dan semua golongan.

  1. Manusia dan Pandangan Hidup
Setiap orang, baik dari tingkatan yang paling rendah sampai dengan tingkatan yang paling tinggi, mempunyai cita-cita hidup. Hanya kadar cita-citanya sajalah yang berbeda. Bagi orang yang kurang kuat imannya ataupun kurang luas wawasannya, apabila gagal mencapai cita-cita, tindakannya biasanya mengarah pada hal-hal yang bersifat negatif.

Disinilah peranan pandangan hidup seseorang. Pandangan hidup yang teguh merupakan pelindung seseorang. Dengan memegang teguh pandangan hidup yang diyakini, seseorang tidak akan bertindak sesuka hatinya. Ia tidak akan gegabah bila menghadapi masalah, hambatan, tantangan dan gangguan, serta kesulitan yang dihadapinya. Biasanya orang akan selalu ingat, taat, kepada Sang Pencipta bila sedang dirudung kesusahan. Namun, bila manusia sedang dalam keadaan senang, bahagia, serta kecukupan, mereka lupa akan pandangan hidup yang diikutinya dan berkurang rasa pengabdiannya kepada Sang Pencipta. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :

1.         Kurangnya penghayatan pandangan hidup yang diyakini.

2.         Kurangnya keyakinan pandangan hidupnya.

3.         Kurang memahami nilai dan tuntutan yang terkandung dalam pandangan hidupnya.

4.     Kurang mampu mengatasi keadaan sehingga lupa pada tuntutan hidup yang ada dalam pandangan hidupnya.

5.         Sengaja melupakannya demi kebutuhan diri sendiri.

Pandangan hidup tidak sama dengan cita-cita. Sekalipun demikian, pandangan hidup erat sekali kaitannya dengan cita-cita. Pandangan hidup merupakan bagian dari hidup manusia yang dapat mencerminkan cita-cita atau aspirasi seseorang dan sekelompok orang atau masyarakat.

Pandangan hidup merupakan sesuatu yang sulit untuk dikatakan, sebab kadang-kadang pandangan hidup hanya merupakan suatu idealisme belaka yang mengikuti kebiasaan berpikir didalam masyarakat. Manuel Kaisiepo (1982) dan Abdurrahman Wahid (1985) berpendapat bahwa pandangan hidup itu bersifat elastis. Maksudnya bergantung pada situasi dan kondisi serta tidak selamanya bersifat positif.

Pandangan hidup yang sudah diterima oleh sekelompok orang biasanya digunakan sebagai pendukung suatu organisasi disebut ideology. Pandangan hidup dapat menjadi pegangan, bimbingan, tuntutan seseorang ataupun masyarakat dalam menempuh jalan hidupnya menuju tujuan akhir.

Pandangan hidup tersebut dapat digunakan dalam menjalani hidup. Pandangan hidup itu juga bisa diimplementasikan sebagai hasil-hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman, fakta, dan sikap meyakini sesuatu yang diringkas sebagai pegangan, pedoman, petunjuk atau arahan. Pandangan hidup dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya yang terdiri dari 3 macam, yaitu:

1.  Pandangan hidup yang berasal dari agama, yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.

2.  Pandangan hidup yang berupa Ideologi, yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada negara tersebut.

3.      Pandangan hidup hasil renungan, yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.

Pandangan hidup mempunyai 5 unsur-unsur, yaitu:

1.  Cita-cita apa yang diinginkan yang mungkin dapat dicapai dengan usaha atau perjuangan.

2.      Kebajikan segala hal yang baik yang membuat manusia makmur, bahagia, damai dan tenteram.

3.      Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi keyakinan.

4.      Keyakinan atau kepercayaan, merupakan hal terpenting dalam hidup manusia.

5.      Etika.

Menurut pendapat saya pandangan hidup seseorang menentukan bagaimana seseorang menjalani hidupnya selama di dunia ini. Hal tersebut karena pandangan hidup yang dimiliki seseorang jika tidak kuat atau kokoh dapat berubah atau berganti jika dipengaruhi oleh pedoman – pedoman lain. Jika pedoman – pedoman tersebut akan mengarahkan kita kepada hal – hal yang positif dan memberikan keuntungan pada diri kita sendiri pula. Tetapi, di dunia ini ada juga pedoman – pedoman yang tidak baik atau tidak sesuai kaidah yang ada. Dengan adanya hal tersebut pula manusia dapat terjerumus kedalam hal – hal yang negatif dan dapat merugikan diri sendiri maupun orang – orang yang ada disekelilingnya.

Akal dan budi sebagai milik manusia ternyata membawa ciri tersendiri akan diri manusia itu. Sebab akal dan budi mengakibatkan manusia memiliki keunggulan dibandingkan makhluk lain. Satu diantara keunggulan manusia tersebut adalah pandangan hidup. Disatu pihak manusia menyadari kehidupannya lebih kompleks.

Pandangan hidup berupa suatu penggaris yang mungkin dapat dinyatakan dengan kata-kata sebagai rumusan juga dapat dikatakan rumusan: Orang yang sulit menyusun perasaan, pikiran dan kejiwaan. Juga karena ia sendiri menyadari bahwa mungkin ia dapat berbuat/ bertindak yang melanggar prinsip-prinsip yang dikatakan. Dan khawatir kalau ada kritik besar dan penyelewengan pandangan hidup dari anak-anak .




DAFTAR PUSTAKA