Kamis, 12 Januari 2017

Masalah Sosial Budaya

Masalah Sosial Budaya Tentang Pengangguran


  1. Pengertian Masalah Sosial Budaya
Menurut Soerjono Soekanto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.

Masalah sosial dan budaya adalah terganggunya atau terhambatnya nilai kemanusiaan dan atau aktivitas manusia dalam mengelola alam, baik itu material ataupun non-material. Masalah-masalah sosial dan budaya selalu ada kaitannya yang dekat dengan nilai nilai moral dan pranata sosial, nilai kehidupan serta selalu ada kaitannya dengan hubungan-hubungan manusia  dan konteks normatif dimana hubungan manusia itu terwujud.

Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :

1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dan lain - lain.

2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, 
dan lain - lain.

3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, 
dan lain - lain.

4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, 
dan lain - lain.


  1. Masalah Sosial Budaya Pengangguran
Pengangguran merupakan istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran biasanya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian, karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang,sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.

Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pengangguran dari faktor pribadi :

1.      Faktor kemalasan.

2.      Faktor cacat atau umur.

3.      Faktor rendahnya pendidikan dan keterampilan.

Faktor ini merupakan penyebab utama meningkatnya pengangguran di Indonesia, di antaranya:
1.      Ketimpangan antara penawaran tenaga kerja dan kebutuhan.
2.   Kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat.
3.   Pengembangan sektor ekonomi.
4.   Banyaknya tenaga kerja wanita.
Beberapa hal yang menyebabkan pengangguran antara lain:
1.      Penduduk yang relatif banyak.
2.      Pendidikan dan keterampilan yang rendah.
3.      Angkatan kerja tidak dapat memenuhi persyaratan yang diminta dunia kerja.
4.      Teknologi yang semakin modern.
5.      Pengusaha yang selalu mengejar keuntungan dengan cara melakukan penghematan-penghematan.
6.      Penerapan rasionalisasi.
7.      Adanya lapangan kerja yang dengan dipengaruhi musim.
8.      Ketidakstabilan perekonomian, politik dan keamanan suatu negara
Beberapa faktor yang menyebabkan seseorang tidak mendapat pekerjaan :
1.      Kurangnya informasi.
2.      Tidak adanya sistem penerimaan publik.
3.      Sulit menerapkan kepintarannya dalam dunia pekerjaan

  1. Cara Menagani Pengangguran
1.      Peningkatan Mobilitas Tenaga kerja dan Moral

Peningkatan mobilitas tenaga kerja dilakukan dengan memindahkan pekerja ke kesempatan kerja yang lowong dan melatih ulang keterampilannya sehingga dapat memenuhi tuntutan kualifikasi di tempat baru. Peningkatan mobilitas modal dilakukan dengan memindahkan industry (padat karya) ke wilayah yang mengalami masalah pengangguran parah. Cara ini baik digunakan untuk mengatasi msalah pengangguran structural.

2.      Pengelolaan Permintaan Masyarakat

Pemerintah dapat mengurangi pengangguran siklikal melalui manajemen yang mengarahkan permintaan-permintaan masyarakat ke barang atau jasa yang tersedia dalam jumlah yang melimpah.

3.      Penyediaan Informasi tentang Kebutuhan Tenaga Kerja

Untuk mengatasi pengangguran musiman, perlu adanya pemberian informasi yang cepat mengenai tempat-tempat mana yang sedang memerlukan tenaga kerja.
Masalah pengangguran dapat muncul karena orang tidak tahu perusahaan apa saja yang membuka lowongan kerja, atau perusahaan seperti apa yang cocok dengan keterampilan yang dimiliki. Masalah tersebut adalah persoalan informasi.
Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu diadakan system informasi yang memudahkan orang mencari pekerjaan yang cocok. System seperti itu antara lain dapat berupa pengumuman lowongan kerja di kampus dan media massa. Bias juga berupa pengenalan profil perusahaan di sekolah-sekolah kejuruan, kampus, dan balai latihan kerja.


4.      Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi baik digunakan untuk mengatasi pengangguran friksional. Dalam situasi normal, pengangguran friksional tidak mengganggu karena sifatnya hanya sementara. Tingginya tingkat perpindahan kerja justru menggerakan perusahaan untuk meningkatkan diri (karir dan gaji) tanpa harus berpindah ke perusahaan lain.
Menurut Keynes, pengangguran yang disengaja terjadi bila orang lebih suka menganggur daripada harus bekerja dengan upah rendah. Di sejumlah Negara, pemerintah menyediakan tunjangan/santunan bagi para penganggur. Bila upah kerja rendah maka orang lebih suka menganggur dengan mendapatkan santunan penganggur. Untuk mengatasi pengangguran jenis ini diperlukan adanya dorongan-dorongan (penyuluhan) untuk giat bekerja.
Pengangguran tidak disengaja, sebaliknya, terjadi bila pekerja berkeinginan bekerja pada upah yang berlaku tetapi tidak mendapatkan lowongan pekerjaan. Dalam jangka panjang masalah tersebut dapat diatasi dengan pertumbuhan ekonomi.


5.      Program Pendidikan dan Pelatihan Kerja

Pengangguran terutama disebabkan oleh masalah tenaga kerja yang tidak terampil dan ahli. Perusahaan lebih menyukai calon pegawai yang sudah memiliki keterampilan atau keahlian tertentu. Masalah tersebut amat relevan di Negara kita, mengingat sejumlah besar penganggur adalah orang yang belum memiliki keterampilan atau keahlian tertentu.

6.      Wiraswasta

Selama orang masih tergantung pada upaya mencari kerja di perusahaan tertentu, pengangguran akan tetap menjadi masalah pelik. Masalah menjadi agak terpecahkan apabila muncul keinginan untuk menciptakan lapangan usaha sendiri atau berwiraswasta yang berhasil.

Saran

Pengangguran di Indonesia bisa dibilang semakin tahun kian meningkat. Hal ini merupakan salah satu masalah yang sampai saat ini belum menemui titik terangnya. Maka dari itu hal ini harus segera dicari solusi yang terbaik agar masalah pengangguran ini tidak lagi merugikan baik di pihak masyarakat maupun pemerintah.

Sebagai subjek yang mencari pekerjaan, masyarakat harus berperan aktif dalam meningkatkan kualitas diri, mencari informasi terbaru, tidak boleh kalah saing dengan teknologi yang diciptakan oleh manusia, dan sebagainya. Dengan peningkatan hal – hal tersebut di atas diharapkan dapat mendapatkan pekerjaan yang selayaknya dan mengurangi angka pengangguran.

Peran pemerintah dalam menyelesaikan masalah pengangguran merupakan salah satu hal yang tidak bisa dihindari. Pemerintah dapat melakukan beberapa upaya untuk mengurangi angka pengangguran yang berarti juga mensejahterakan masyarakatnya. Tindakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mencari solusi untuk mengurangi angka pengangguran, membuat lapangan kerja yang baru, memberikan pelatihan kepada pengangguran yang ada agar mereka dapat mencari kerja baik di dalam negeri maupun di luar negeri, meningkatkan kualitas pendidikan, dan sebagainya.

Dengan adanya keselarasan antara kedua belah pihak di atas diharapkan dapat mengurangi pengangguran yang berarti dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.


Daftar Pustaka






Tidak ada komentar:

Posting Komentar