Jumat, 20 Oktober 2017

MENOLAK LUPA!

KISAH 3 WANITA TANGGUH

Saya ingin menceritakan pengalaman waktu masa SMA. Sudah menjadi kebiasaan bagi guru seni budaya saya untuk memberikan tugas kelompok menjelang akhir semester. Namun, kali ini tugasnya agak sedikit berbeda. Beliau meminta kami untuk menari tarian tradisional. Untuk tugas semester ini tarian tradisional yang dipilih adalah tari Saman. Tarian tradisional yang merupakan tarian khas dari Provinsi Aceh. Tarian tersebut biasanya ditarikan secara berkelompok. Pembagian kelompok dilakukan oleh guru seni budaya saya, yaitu Pak Bakas. Beliau membagi satu kelas saya menjadi tiga kelompok, yang kemudian masing-masing berjumlah 11 orang. Saat pembagian kelompok tersebut saya mendapat kelompok yang rata-ratanya adalah anak laki-laki. Dalam kelompok tersebut hanya ada 3 anak perempuan, termasuk saya. Bisa dibayangkan bagaimana kami ketiga, perempuan-perumpuan tangguh ini  harus mengajarkan 7 orang laki-laki untuk bisa menari saman. Meskipun pada kenyataannya saya dan 2 teman perempuan saya juga belum dapat menarikan tarian tersebut. Namun, itu tidak membuat kami takut ataupun khawatir. Itu bahkan menjadi tantangan tersendiri bagi kami untuk dapat mengajari mereka bagaimana menarikan tarian saman tersebut dengan baik meskipun tidak sebaik penari tradisional yang sudah professional maupun yang telah mengikuti sanggar.

Beruntung, salah satu teman laki-laki yang sekelompok dengan saya memiliki kemampuan yang cukup potensial dalam urusan kesenian tari Saman ini. Namanya adalah Taufik. Dia bisa mempelajari tari saman dari youtube secara otodidak bahkan hingga membuat kombinasi-kombinasi baru dari gerakan tarian yang hanya ia lihat melalui youtube tersebut. Dia juga mengajarkan kami dengan sabar serta tekun. Salah satu keunikan kelompok kami adalah memiliki strategi tersendiri dalam menghafal gerakan tari Saman. Taufik akan belajar dan membuat variasi gerakan tari Saman dengan menonton video-video dari youtube. Setelah itu, dia akan mengajarkannya kepada kami, 3 perempuan tangguh (Khalidah, Iyya, dan saya sendiri, Rani). Setelah kami berempat telah benar-benar menguasai gerakan tari Saman tersebut, barulah kami mengajarkannya ke 7 anak laki-laki lainnya. Dalam mengajarkan gerakan tersebut kami membuat suatu sistem pengajaran tersendiri. Dimana masing-masing dari 3 perempuan akan mengajarkan 2 orang laki-laki. Untuk Taufik hanya akan mengajarkan 1 orang lelaki saja, yaitu Nando. Khalidah mengajari Gugun dan Vincent. Iyya mengajari Hilman dan Baber. Saya sendiri mengajari Alfian dan Aria. Ini juga merupakan keunikan selanjutnya dari kelompok kami dan memberi kesan tersendiri bagi kami terutama bagi saya yang bertindak sebagai yang mengajari tarian tersebut untuk dapat bersabar dalam mengajari anak laki-laki ini agar dapat menarikannya dengan baik tanpa terlihat kaku. Jujur ini agak sulit untuk saya karena memang saya sendiri juga baru mempelajari hal ini. Ditambah dengan harus berhadapan dengan anak lelaki yang kadang pun memiliki kesulitan tersendiri dalam menghadapinya. Intinya adalah mengajari mereka menari saman lebih sulit dibanding ketika saya harus  memahami rumus fisika.

Untuk tugas ini waktu yang diberikan oleh guru saya adalah sekitar 3 bulan hingga akhirnya kami harus mempresentasikan hasil tarian kami. Kelompok saya sempat mengalami beberapa kendala dalam hal gerakan, kekompakkan, serta kerja sama. Namun, kami dapat melewatinya. Tidak hanya gerakan yang menjadi fokus utama kami. Kostum tarian yang akan dikenakan pun tak luput dari pemikiran kami. Untuk kostum yang akan kami kenakan, kami memilih 3 warna baju yang terdiri dari ungu, putih dan biru. Pemakaian baju setiap anggota disesuaikan dengan posisi saat melakukan tarian. Ketika waktu presentasi semakin dekat, kelompok saya semakin giat dalam latihan dan mengingat serta mengkompakkan gerakan antara satu sama lain, hingga akhirnya hari pementasan pun tiba. Awalnya guru kami mengatakan bahwa pementasan tarian akan dilakukan di lapangan basket sekolah kami. Namun, karena mempertimbangkan beberapa faktor, maka presentasi dilakukan di dalam kelas. Pengalaman selanjutnya adalah ketika kami harus menggunakan kostum tarian Saman tersebut. Karena hampir semua anggota kelompok saya adalah laki-laki maka kami yang perempuan harus membantu mereka dalam menggunakan kostum tersebut. Bukan hal yang mudah juga dalam menggunakan kostum tarian saman tersebut. Karena ternyata kostum tersebut memiliki atribut pakaian yang cukup beragam dan agak sulit untuk dipasangkan. Cukup banyak kejadian lucu yang saya ingat ketika saya membantu teman laki-laki saya dalam menggunakan pakaian tersebut. Salah satunya adalah  ketika semua atribut sudah terpasang, tiba-tiba kain songket salah satu teman laki-laki saya terlepas padahal waktu untuk kami mempresentasikan tarian kami hampir tiba. Kejadian itu sungguh diluar dugaan dan membuat anggota sekelompok saya benar-benar panik. Ada yang membantu untuk menyematkan peniti ada yang membantu untuk memegangi kainnya dan banyak lagi. Hingga jika diingat hampir semua anggota saya ikut andil dalam hal tersebut padahal jika dipikir-pikir hanya satu orang yang kain songketnya terlepas namun heboh satu kelompok. Terkadang ketika mengingatnya saya dan teman saya yang lain menertawai kehebohan kami waktu itu.


Kami mempertunjukan tarian Saman selama kurang lebih 13 menit. Ada beberapa kendala yang terjadi saat perform, tetapi kelompok kami tetap senang karena telah menyelesaikan tugas dengan latihan yang sungguh-sungguh. Hal itu sungguh memiliki cerita tersendiri bagi saya. Bukan hanya sekedar cerita melainkan juga mengajarkan saya banyak hal seperti saya yang dituntut harus bersabar dalam melatih teman-teman saya yang lain, saya juga dilatih konsentrasi selain itu juga dilatih untuk dapat menikmati tarian tersebut agar gerakan yang dipertontonkan tidak terlihat kaku. Serta belajar untuk bekerja sama sehingga menimbulkan gerakan tarian yang memiliki keselarasan gerakan dan harmoni. Saya amat berterima kasih kepada kelompok saman saya karena telah memberikan pengalaman baru untuk saya. Ini menjadi sebuah kisah klasik yang tidak akan saya lupakan. Pengalaman masa SMA yang sangat berkesan bagi saya. Terima kasih kawan atas kenangan manis mu. Aku tunggu kenangan manis lainnya dimasa mendatang. 

Sumber Inspirasi :
Khalidah & Iyya ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar